mudimesra.com | Di akhir Pengajian Hikam Special Ramadhan hari ke-4, Abi MUDI mendapat pertanyaan dari salah satu akun Facebook yang mengikuti pengajian ini melalui live streaming Lajnah Pengembangan Dakwah MUDI Mesra. Abi ditanya apa hukumnya kita belajar ilmu zahir pada seorang guru yang tidak berakhlak. Dalam memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Abi MUDI menceritakan kisah Imam Al-Ghazali yang belajar pada perampok.

Ketika pulang dari tempat menuntut ilmu, Imam Al-Ghazali berjumpa dengan perampok. Imam Al-Ghazali tidak keberatan mereka mengambil apa saja yang ada bersamanya kecuali sesuatu yang ada di tangannya. Imam Al-Ghazali berkata: "Itu dalam tas ada uang, pakaian, dan benda lainnya. Silahkan kamu ambil jika kamu mau kecuali ini." Kata Imam Al-Ghazali seraya mengisyarah kepada sesuatu yang dipegangnya.
[post_ad]
Lantas si perampok bertanya, "Ini apa? Kenapa Engkau keberatan melepaskannya?". Maka Imam Al-Ghazali berkata: "Ini adalah catatan keilmuanku, hasil yang Aku peroleh setelah belajar bertahun-tahun." Mendengar jawaban itu sang perampok berujar, "Kalau begitu kasihan sekali kamu, capek belajar bertahun-tahun, ilmumu hanya ada di tulisan." Jawaban ini diambil sebagai ilmu oleh Imam Al-Ghazali untuk melecutkan semangatnya dalam menghafal setiap ilmu yang dipelajari.

Menurut Abi, kisah ini dapat menjadi jawaban bahwa tidak masalah mempelajari ilmu zahir pada seorang guru yang tidak mengamalkan ilmunya. Hal ini berbeda dengan ilmu bathin dalam bidang tasawwuf yang ditempuh oleh seorang salik, tentu harus belajar pada guru murabbi, yang benar-benar memiliki keshalihan zahir dan batinnya. (iqbal_jalil)