recent

Tafsir Isyari Dari Kisah Nabi Musa

mudimesra.com | Di dalam menafsirkan surat Thaha yang membicarakan tentang tongkat Nabi Musa, para Ulama Sufi menempuh pendekatan tafsir yang berbeda. Para Ulama Sufi menjadikan ayat ini sebagai isyarah bagaimana Allah memberikan gambaran dan perumpamaan tentang hakikat dunia. Allah berfirman:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى
"Apa itu di tangan kananmu Wahai Musa?" (Thaha: 17)

 قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
Nabi Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku berpangku padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". (Thaha: 18)

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى
Allah berfirman: "Lemparkanlah Ia Wahai Musa!" (Thaha: 19)

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى
Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (Thaha: 20)

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى
Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula." (Thaha: 21)
[post_ad]
Para Ulama Sufi menafsirkan, ketika Nabi Musa menjawab bahwa di tangan kanannya ada tongkat dengan segala keperluannya, Allah tersinggung karena Nabi Musa seolah-olah lebih mementingkan tongkat ketimbang mementingkan Allah SWT. Maka karena itu Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk membuang tongkat itu. Lalu setelah tongkat dibuang dan berubah menjadi ular yang merayap, Nabi Musa merasa takut. Maka saat itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengambil kembali tongkat itu karena beliau tidak lagi mengambil tongkat atas dasar nafsunya.

Tongkat Nabi Musa diibaratkan oleh Ulama Sufi sebagai dunia dan awalnya Nabi Musa tidak tau hakikat tongkat itu sebenarnya. Ular yang merayap itu adalah perumpamaan dunia yang sebenarnya yang sangat berbahaya. Maka ayat ini dijadikan sebagai tafsir isyari seakan yang terjadi dialog sebenarnya adalah antara Allah dan Faqir (orang yang berhajat kepada Allah).

Allah bertanya kepada Faqir:

 وما تلك بيمينك أيها الفقير؟
Apa yang ada di tangan kananmu Wahai Faqir?

 فيقول: هي دنياي أعتمد عليها في معاشي وقيام أموري، وأُنفق منها على عيالي، ولي فيها حوائج أخرى
Maka faqir menjawab: Ini adalah dunia, yang aku berpegang padanya dalam menjalani kehidupanku, mengurusi urusanku, memberikan nafkah kepada keluargaku, dan bagiku ada kebutuhan yang lainnya.

Maka saat itu Allah tidak senang dan memerintahkan kepada Faqir untuk meninggalkan dunia. Lalu setelah seorang Faqir meninggalkan dunia dan menjadi sadar bagaimana hakikat dunia sebenarnya, Allah memerintahkan kepada Faqir silahkan menjalani kehidupan dunia, karena pada saat itu ia tidak lagi menjadikan dunia untuk keinginan hawa nafsunya. (iqbal_jalil)

(Dikutip dari Pengajian Hikam Special Ramadhan bersama Abi MUDI, 3 Ramadhan 1438 H)
Tafsir Isyari Dari Kisah Nabi Musa Reviewed by Mudi Mesra on Monday, May 29, 2017 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Dayah MUDI Mesra © 2017

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by mammuth. Powered by Blogger.