recent

Pengajian Al-Hikam Hari ke-21: Ridha Terhadap Nafsu

mudimesra.com | Pengajian Syarah Al-Hikam pada hari ke-21 Ramadhan 1437 H dilanjutkan dengan Kalam Hikmah yang ke-33 dari Syekh Ibnu Athaillah yang berbunyi

الحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجوبٍ، وإنَّما المَحْجوبُ أَنْتَ عَنِ النَّظَرِ إلَيْهِ. إذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيءٌ لَسَتَرَهُ ما حَجَبَهُ، وَلَوْ كانَ لَهُ ساتِرٌ لَكانَ لِوُجودِهِ حاصِراً، وَكُلُّ حاصِرٍ لِشَيءٍ فَهَوَ لَهُ قاهِرٌ، (وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ(

Al-Haq (Allah) tidak terhijab, tapi engkaulah yang terhalang dari melihat-Nya. Sekiranya Allah terhijab oleh sesuatu, maka sesuatu itu berarti telah menutupi-Nya. Dan bila ada tutup bagi-Nya, maka tentu wujud-Nya akan terkurung oleh sesuatu tersebut. Dan sesuatu yang mengurung tentu menguasai yang dikurung, padahal Allah Mahakuasa atas semua hamba-Nya.

Kalam Hikmah selanjutnya berbicara tentang sifat kemanusiaan kita
اخْرُجْ مِنْ أوْصافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُناقِضٍ لِعُبوديَّتِكَ لِتَكونَ لِنِداءِ الحَقِّ مُجيباً، ومِنْ حَضْرَتِهِ قَريباً
"Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu, setiap sifat yang menyalahi ubudiyah-mu (penghambaan), supaya mudah bagimu menyambut panggilan Al-Haq (Allah) dan mendekat kehadirat-Nya."

Kalam Hikmah yang ke-35 berbunyi

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوةٍ؛ الرِّضا عَنِ النَّفْسِ. وَأَصْلُ كُلِّ طاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ؛ عَدَمُ الرِّضا مِنْكَ عَنْها. وَلَئِنْ تَصْحَبَ جاهِلاً لا يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ خَيرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عالِماً يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ. فأَيُّ عِلْمٍ لِعالِمٍ يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ! وَأَيُّ جَهْلٍ لِجاهِلٍ لا يَرْضى عَنْ نَفْسِهِ!


Panggal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan dan kesucian adalah engkau tidak ridha terhadap hawa nafsu. Bersahabat dengan orang jahil yang tidak memperturutkanhawa nafsunya lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang alim yang tunduk pada hawa nafsunya. Ilmu macam apa yang disandang si alim yang tunduk pada hawa nafsunya itu? Sebaliknya, kejahilan apa yang dapat disandangkan pada orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?
[post_ad]
Hawa Nafsu
Dalam dada setiap manusia ada nafsu yang mana keinginan mengikutinya sangat dikecam oleh Allah swt. Sehingga dengan kata bijak Syekh Ibnu Athaillah mengatakan asal kemaksiatan, syahwat dan kelalaian adalah nafsu. Puncaknya terjadi ketika memperturutkan hawa nafsu.

Kealiman yang sempurna untuk mencapai kehadirat Allah swt di saat nafsu mampu ditundukkan dan kejahilan yang sempurna ketika nafsu diperturutkan.

Nafsu menganjurkan untuk melakukan maksiat kepada Allah swt. Nafsu mengajak orang untuk melihat yang membangkitkan syahwat. Nafsu juga menjerumuskan manusia kepada kelalaian. Segala tingkatan lalai untuk beribadah kepada Allah sangat sesuai dengan kehendak nafsu. Makanya harus di lawan.

Ridha merupakan salau satu bentuk kata menuruti. Menentukan nasfu supaya tunduk pada manusia dengan jalan menjauhkan diri dari nafsu berbuat maksiat, nafsu syahwat dan nafsu kelalaian yang menjauhkan diri seorang hamba terhadap Tuhannya.

Ridha dari nafsu menyeret segala sifat-sifat tercela untuk ikut di dalamnya. Begitu juga sebaliknya, tidak ridha dengan sifat nafsu menarik sifat-sifat terpuji.

Ikuti kembali pengajian Syarah Al-Hikam Hari ke-21 Ramadhan 1437 H.

Jangan lupa untuk terus mengikuti Pengajian Syarah Al-Hikam bersama Abi MUDI selama bulan Ramadhan, setiap harinya pada pukul 06:00 WIB secara langsung di Livestream pada link berikut:
Kajian Syarah Al-Hikam Bersama Abi Zahrul Fuadi Mubarrak (ABI MUDI)

Download file PDF kitab nya juga supaya bisa ikutan nyimak.
Syarah Hikam Ibn Abbad

Pengajian Al-Hikam Hari ke-21: Ridha Terhadap Nafsu Reviewed by Mudi Mesra on Monday, June 27, 2016 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Dayah MUDI Mesra © 2017

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by mammuth. Powered by Blogger.